Muslim Startup (1)

Startup Islami Syariah di Asia Tenggara

Dunia startup teknologi Islami lagi hype banget nih di Asia Tenggara! Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai solusi teknologi Islami makin banyak bermunculan, terutama di sektor fintech.

Bahkan, e-commerce besar kayak Shopee, Lazada, dan Tokopedia sekarang udah punya laman khusus buat produk halal. Mulai dari fashion sampai makanan halal, semuanya ada! Jadi, buat lo yang lagi cari produk halal, nggak perlu ribet lagi, tinggal scroll-scroll aja di platform favorit lo.

Ngomongin soal pendanaan, industri ini sempat booming banget di 2021, tapi agak turun di 2022. Meski gitu, nominal pendanaan di 2022 tetep jadi yang tertinggi, berkat startup asal Indonesia, Alami, dan Funding Societies yang berhasil galang dana gede.

FYI, Alami itu perusahaan P2P lending yang fokus ke UMKM, sementara Funding Societies (induk Modalku dari Singapura) juga ngasih layanan keuangan syariah, khususnya di Malaysia.

Kenapa potensinya gede banget? Ya, karena Asia Tenggara tuh punya pasar muslim yang super besar, terutama di Indonesia dan Malaysia. Indonesia sendiri punya lebih dari 230 juta penduduk muslim, dan Malaysia ada sekitar 20 juta muslim. Bayangin deh, ada sekitar 90 juta muslim di Indonesia yang belum punya rekening bank, dan 55% orang dewasa di Malaysia masuk kategori unbanked atau underbanked. Peluang besar buat fintech Islami nih!

Regulasi di Indonesia dan Malaysia juga udah mulai bersahabat sama teknologi Islami. Di Malaysia, peraturan lokal bikin perusahaan fintech Islami lebih gampang beroperasi dan kolaborasi dengan perusahaan besar. Bahkan para ulama juga bantu banget dengan insight soal tren teknologi kayak blockchain dan cybersecurity, jadi startup bisa lebih inovatif.

Nah, di Indonesia sendiri, fintech syariah diatur sama regulasi fintech dan fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Intinya, fintech syariah nggak boleh bertentangan sama prinsip Islam. Misalnya, riba nggak boleh nih! Jadi, yang namanya pinjaman syariah nggak ada bunga, melainkan sistem bagi hasil.

Contohnya Alami Group dari Indonesia, mereka punya layanan P2P lending syariah yang namanya Alami dan juga bank digital Hijra. Sejak didirikan tahun 2018, mereka udah berhasil kumpulin pendanaan minimal US$67 juta atau sekitar Rp996 miliar! Nggak main-main kan?

Selain itu, ada juga startup syariah lain yang keren-keren kayak Ethis dari Malaysia yang bergerak di P2P dan crowdfunding, Aladin dari Indonesia yang nyalurin pinjaman lewat Bank Aladin, dan Kapital Boost dari Singapura.

Fintech Islami di Asia Tenggara emang masih didominasi sama layanan P2P lending, tapi nggak cuma itu kok! Ada juga yang fokus ke crowdfunding dan pembayaran syariah.

Di segmen e-commerce, ada juga startup direct-to-consumer yang mulai bermunculan, salah satunya Believe, yang fokus jual produk fashion muslim. Fashion muslim makin stylish deh!

Selain fintech dan e-commerce, ada juga startup seru kayak Durioo dari Malaysia, yang bikin layanan streaming konten anak-anak Islami. Terus, ada Muzz dari Inggris, aplikasi kencan dan pernikahan berbasis syariah. Durioo baru aja dapet pendanaan sebesar US$2,9 juta (sekitar Rp43 miliar) dari investor kayak Gobi Partners dan Y Combinator.

Jadi, buat lo yang ngikutin perkembangan teknologi Islami, Asia Tenggara bakal makin panas nih!

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *